Sabtu, 09 April 2011

pendekatan dan metode dalam keterampilan kalam

Pendekatan dalam keterampilan berbicara
Sebelum kita membahas tentang pendekatan dalam keterampilan berbicara terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu keterampilan berbicara, menurut dwi rohmah dalam situsnya http://www.dwirohmah.wordprees.com yang mengutip dari Iskandarwassid menuliskan, keterampilan berbicara ialah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagaimana kita ketahui dalam sebuah Jurnal Pemikiran Alternative Kependidikan tentang Pendekatan dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab diantara pendekatan yang ada dalam pembelajaran bahasa arab ialah sbb:
 Pendekatan Kemanusian (Humanistic Approach)
Pendekatan ini memberi tempat yang utama pada peserta didik karena mereka adalah subjek utama dalam kegiatan pendidikan. Pendekatan ini berasumsi bahwa peserta didik memiliki potensi, kekuatan, dan kemampuan untuk berkembang.
 Pendekatan Berbasis Media (Media Based Approach)
Pendekatan ini bertujuan untuk melengkapi konteks yang menjelaskan makna kata-kata, struktur, dan istilah-istilah kebudayaan baru melalui gambar, peta, foto, contoh model yang hidup, kartu, dan segala sesuatu yang dapat membantu menjelaskan makna kata yang asing pada peserta didik.
 Pendekatan Mendengar-Mengucapkan (Aural Oral Approach)
Pendekatan ini mengandaikan bahwa bahasa adalah apa yang didengar dan diucapkan, bukan simbol, sedangkan tulisan hanyalah representasi dari ujaran. dapat dikatakan bahwa bahasa adalah ujaran. Pembelajaran bahasa harus dimulai dengan mendengarkan bunyi-bunyi bahasa yang berbentuk kata dan kalimat.
 Pendekatan Komunikatif (Communicative Approach)
Sesuai dengan fungsi kompetensinya, penyajian bahasa hendaknya lebih menekankan kepada kegiatan komunikasi aktif dan praktis.
 Pendekatan All In One System
Pendekatan ini berasumsi pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan kemahiran menyimak atau mendengarkan bunyi bahasa dalam kata atau kalimat, dan melatih pengucapannnya sebelum pelajaran membaca dan menulis dilakukan.



 Pendekatan Parsial (Parsial Approach)
Pendekatan ini memandang secara parsial sesuai dengan kebutuhan, sehingga pembelajaran diarahkan pada aspek tertentu dalam bahasa. Pendekatan semacam ini dalam pembelajaran dimulai dari rumusan-rumusan teoritis dan menggunakan
metode klasik
Akan tetapi pendekatan di atas tidak semuanya dapat digunakan dalam pembelajaran keterampilan berbicara, sebagaimana kita ketahui dalam pembelajaran keterampilan berbicara aspek yang ditekankan ialah berkomunikasi atau berbicara, jadi pendekatan yang sesuai ialah pendekatan komunikatif (Communicative Approach) yang mana pada pendekatan ini lebih menekankan kepada kegiatan komunikasi aktif dan praktis.
Menurut http://iinyellowez.blogspot.com menuliskan bahwa metode dalam suatu pemebelajaran mengarahkan keberhasilan belajar anak didik serta mendorong kerjasama dalam kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan anak didik. Jadi jelas bahwa salah satu komponen yang sangat menentukan terhadap berhasil atau tidaknya proses pengajaran adalah metodenya. Sebab dengan metode motivasi belajar siswa akan bertambah. Sehingga transformasi pelajaran dari guru kepada siswa akan mencapai sasaran dan keberhasilan. Namun dalam pengajaran bahasa Arab sering terjadi perbedaan metode yang digunakan oleh seorang guru dengan guru lainnya.
Adapun metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran kalam diantaranya yaitu:
 Metode langsung
 Metode ceramah dan
 Metode drill
Akan tetapi metode yang cocok untuk pembelajaran kalam pada siswa kelas X ialah metode drill. Sedangkan metode drill (latihan siap) itu sendiri menurut beberapa pendapat memiliki arti sebagai berikut.
a. Menurut NK Roestiyah. Dalam bukunya Strategi Belajar Mengajar menuliskan bahwa metode drill dapat diartikan sebagai suatu cara mengajar di mana siswa melaksanakan kegiatan-kegiatan latihan, siswa memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang telah dipelajari (Roestiyah N.K, 1985:125).
b. menurut Zuhairini dalam bukunya Metodik Khusus Pendidikan Agama. Metode drill ialah suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran dengan jalan melatih anak-anak terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan. (Zuhairini dkk, 1983:106).
c. sedangkan menurut Shalahuddin dalam bukunya Metodologi Pengajaran Agama metode drill ialah suatu kegiatan dalam melakukan hal yang sama secara berulang-ulang dan sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi permanen. (Shalahuddin dkk, 1987: 100).
Dari beberapa pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode drill (latihan siap) adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan jalan melatih siswa agar menguasai pelajaran dan terampil. Dari segi pelaksanaannya siswa terlebih dahulu telah dibekali dengan pengetahuan secara teori secukupnya. Kemudian dengan tetap dibimbing oleh guru, siswa disuruh mempraktikkannya sehingga menjadi mahir dan terampil.
Menurut Ahmad Muradi dalam situsnya (http//www.iainantasaribanjarmasin.com) menyimpulkan bahwa Metode pembelajaran bahasa Arab yang sering digunakan oleh pengajar bagi pemula (baru belajar bahasa Arab) adalah metode drill (latihan siap). Sebab metode ini sesuai dengan fitrah bahasa dan fitrah manusia. Yang pertama kali berfungsi panca indra pada manusia adalah mendengar lalu kemudian berbicara. Di sinilah metode yang satu ini berperan. Oleh karena itu, guru atau pengajar bahasa (khususnya bahasa Arab) sangat berkepentingan memahami bagaimana pelaksanaan metode drill ini dalam pembelajaran bahasa Arab. Sebab yang menjadi tujuannya adalah agar siswa cepat terampil berbahasa Arab dalam waktu singkat.
Menurut sebuah jurnal pemikiran alternative kependidikan tentang Pendekatan dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab menjelaskan bahwa teknik –teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran kalam ialah sebagai berikut:
a. Khibrah Mutsirah; menyampaikan topik bahasa Arab yang selalu dikaitkan dengan pengalaman peserta didik sehari-hari. Kemudian, meminta peserta didik untuk mengungkapkan kembali pengalamannya yang disesuaikan dengan topik tersebut.
b. Ta’bir al-ara al-Raisiyyah; mengasah keberanian peserta didik untuk bicara dengan bahasa Arab secara spontan dan kreatif, yaitu dengan menjelaskan materi melalui peta konsep (labelisasi).
c. Tamtsiliyah, dengan mengajak peserta didik belajar bahasa Arab dengan cara bermain drama, masing-masing diberi peran sesuai skenario yang terdapat dalam bacaan. Pada kegiatan ini mempunyai dua manfaat, yaitu hiburan dan belajar berbahasa.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Fuad Effendy, Metodelogi Pembelajaran Bahasa Arab, ( Malang: Misykat, 2004)
http://pelawiselatan.blogspot.com
http://www.dwirohmah.wordprees.com
Jurnal Pemikiran Alternative Kependidikan Pendekatan dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, (Purwokerto: Insania, 2006)
Mahfud Shalahuddin, Metodologi Pengajaran Agama, (Surabaya: Bina Ilmu, 1987)
Munir, Perencanaan Sistem Pemebelajaran Bahasa Arab, ( Palembang: Raden Fatah Press, 2006)
NK. Roestiyah, Strategi Belajar Mengaja, (Jakarta: Bina Aksara, 1985)
Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, ( Surabaya: Usaha Nasional,1983)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar